Mengukir Jejak Perempuan HMI di Training Raya Cabang Samarinda 2025
Ditulis Oleh: Putri Eka Handayani
Samarinda, 2025 — Di tengah arus dinamika gerakan mahasiswa yang kian kompleks, kehadiran perempuan dalam ruang-ruang strategis organisasi menjadi penanda penting arah perubahan. Salah satunya terlihat dalam Latihan Khusus Kohati (LKK) HMI Cabang Samarinda yang digelar sebagai bagian dari Training Raya Cabang Samarinda 2025. Sebuah forum yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menghidupkan kembali semangat keberpihakan perempuan terhadap umat dan bangsa.
Saya mengikuti forum ini bukan semata sebagai peserta, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kolektif yang menggugah kesadaran. LKK bukan sekadar agenda struktural organisasi. Ia adalah ruang yang membuka kemungkinan bagi perempuan HMI yang kerap berada di balik layar untuk tampil sebagai pelaku utama dalam diskursus dan praksis keumatan.
LKK: Ruang Pembentukan, Bukan Sekadar Pelatihan
Materi-materi yang disampaikan dalam forum ini mengafirmasi pentingnya LKK sebagai arena strategis bagi kader perempuan. Di sini, Kohati diposisikan bukan lagi sebagai pelengkap dalam struktur HMI, melainkan sebagai subjek aktif yang melahirkan gagasan, merumuskan gerakan, dan menghadirkan teladan. Diskusi yang hidup, dinamika yang intens, serta semangat solidaritas sesama peserta menjadikan LKK sebagai pengalaman transformatif.
Di ruang ini, saya belajar bahwa menjadi insan cita HMI menuntut lebih dari sekadar pemahaman konseptual. Ia memerlukan keberanian untuk berdialektika, untuk tampil dan berbicara, untuk mempertanyakan, bahkan menggugat—demi mendorong perubahan yang berpihak pada keadilan.
Momentum Refleksi dan Proyeksi Gerakan Perempuan
Bagi saya pribadi, LKK 2025 ini menjadi titik balik. Sebuah momen reflektif yang memaksa saya menengok ke dalam—siapa saya sebagai kader perempuan? Apa yang bisa saya kontribusikan dalam ruang sosial yang lebih luas? Di sinilah aktualisasi diri menemukan panggungnya.
Pengalaman ini juga menegaskan pentingnya nilai kebersamaan, kolaborasi lintas latar belakang, serta semangat persaudaraan di antara sesama kader. Inilah fondasi sosial yang menjadi kekuatan kolektif HMI, terutama dalam melahirkan kepemimpinan perempuan yang tangguh dan visioner.
Mewariskan Semangat, Melanjutkan Estafet
Apa yang saya alami di LKK bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Tanggung jawab untuk menjaga bara semangat perempuan HMI tetap menyala, untuk terus membangun ruang-ruang aman dan produktif bagi kader perempuan di masa depan. Karena sesungguhnya, perjuangan keumatan dan kebangsaan tak akan pernah paripurna tanpa peran aktif perempuan di dalamnya.
Sebagaimana semboyan yang terus kami bawa:
“Mencapai Fitrah Insan Paripurna.”
LKK bukan hanya melatih kami untuk menjadi pemimpin. Ia menanamkan kesadaran bahwa perempuan HMI harus hadir sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan—dari akar hingga ke puncak perjuangan. (rdk/ar).
Redaksi Rimpang.id mengajak pembaca untuk terus menggali suara-suara dari akar gerakan. Jika kamu memiliki cerita, pengalaman, atau opini dari ruang sosialmu, kirimkan ke redaksi kami.

